Teknologi digital bantu penanggulangan Tuberkolusis di kenormalan baru

by -16 views

Jakarta (PKomplek) – Pemanfaatan teknologi digital diharap meningkat di kenormalan baru untuk membantu penanggulangan penyakit Tuberkulosis (TBC) di Indonesia.

“Teknologi digital bisa dipakai untuk promosi, penemuan, pemantauan pengobatan TBC melalui media sosial, WhatsApp hingga hotline,” kata Kepala Subdit Tuberkulosis Kementerian Kesehatan Imran Pambudi dalam diskusi Forum Kemitraan Tuberkolusis Nasional, Rabu.

Baca juga: Kemenkes perkuat kesinambungan penanganan TBC dan COVID-19

Di era pandemi ini, penting juga untuk memenuhi kebutuhan APD untuk tenaga kesehatan maupun kader, juga mempertahankan layanan pengobatan dan laboratorium TBC berdampingan dengan layanan COVID-19.

Dia berharap ada peningkatan layanan dalam merencanakan kebutuhan dan distribusi logistik TBC sehingga semua tersampaikan kepada pasien. Penting juga untuk meningkatkan kelengkapan dan ketepatan pencatatan dan laporan dengan sistem yang ada.

Komitmen pemerintah daerah juga jadi faktor krusial dalam menyediakan tenaga serta anggaran untuk kasus TBC, juga meningkatkan proporsi pasien memulai pengobatan dengan mengatasi kendala akses layanan. Pasien juga harus dibantu dengan memperbanyak pendampingan dari komunitas.

“Dulu komunitas diajak ikut serta ketika pasien sudah diobati, tapi akan lebih kuat ketika diajak sejak pasien terdiagnosis agar bisa segera diajak berobat,” katanya.

Hadirnya pandemi COVID-19 menjadi tantangan tersendiri bagi upaya penanggulangan TBC di Indonesia. Perhatian dan respons berbagai pemangku kepentingan yang dipusatkan pada penanganan COVID-19 berpotensi menghadirkan dampak berkepanjangan terhadap negara dengan beban TBC yang tinggi.

Menurut studi yang dilakukan oleh Stop TB Partnership bersama dengan Imperial College London, Avenir Health, Johns Hopkins University dan USAID, menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 telah menyebabkan kemunduran capaian program TBC di seluruh dunia ke tingkatan lima hingga delapan tahun ke belakang. Secara global, pembatasan wilayah tiga bulan dan masa pemulihan 10 bulan dapat menyebabkan tambahan 6,3 juta kasus TBC tahun 2020 dan 2025, dan tambahan 1,4 juta kematian akibat TBC dalam kurun waktu sekarang.

Baca juga: Kemenkes: Pentingnya Terapi Pencegahan Tuberkolusis untuk eliminasi TB

Baca juga: Tenaga kefarmasian apotek berperan tangani penderita TBC

Baca juga: Haru biru menghadapi tuberkulosis

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © PKomplek 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *