Ketoprak Minak Jingga dan gelombang pandemi setahun

by -16 views
Magelang (PKomplek) – Kalau malam menjelang setahun pandemi COVID-19 di Indonesia para seniman petani Gunung Merbabu pentas ketoprak, sejatinya bukan untuk ditonton banyak orang, karena riskan terjadi kerumunan yang bisa mengakibatkan penularan virus corona jenis baru itu.

Di tengah situasi pandemi, mereka menggelar pementasan secara terbatas, sekadar menjaga eksistensi naluriah berkesenian rakyat, bertepatan dengan kalender tradisi merti desa “Rejeban” di dusun itu.

Begitu sepenggal ungkapan pimpinan komunitas seniman petani kawasan Gunung Merabu, Padepokan Warga Budaya Gejayan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Riyadi, setelah berpidato tanpa mikrofon untuk membuka pementasan ketoprak dengan lakon “Minak Jingga” di pendoponya.

Tanpa bayaran, mereka manggung ketoprak. Pementasan itu disebut dia sebagai membangun bahagia dengan caranya sendiri. Terlebih, hati gembira bagian dari infrastruktur imunitas tubuh dari penularan virus.

Nyaris tak ada warga luar dusun menonton, juga tak terlihat pedagang kaki lima menggelar aneka jualan sebagaimana situasi sebelum pandemi setahun lalu, tatkala warga desa membikin tontonan rakyat.

Pandemi merangsek ke Indonesia ditandai dengan temuan terhadap dua warga terkonfirmasi dan diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020.

Kabar pementasan ketoprak “Minak Jingga” dengan alur cerita sebagaimana diketahui selama ini oleh kalangan seniman petani Merbabu itu, rupanya terdengar penulis budaya yang tinggal di Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Bre Redana.

Di lamannya, ia berkisah sesuai versinya, tentang salah satu cerita legendaris berlatar belakang Kerajaan Majapahit, “Minak Jingga”. Bre menuliskan kisah itu secara bersambung. Pada Selasa (2/3) sampai cerita sambungan ke-12, sedangkan saat awal bercerita yang diakuinya secara suka-suka itu, ia menyebut “Minak Jingga versi Ciawi”.

Riyadi, yang juga salah satu pimpinan Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang itu, mengetahui kalau Bre mendapat informasi tentang pentas ketopraknya. Teknologi informasi memungkinkan kabar tertutup untuk warga setempat itu tak terbendung hingga keluar dusun, termasuk sampai Ciawi.

Meski demikian, sudah bisa dipastikan sang penulis tak bisa hadir ke padepokan itu dalam waktu mepet untuk ikut nonton ketoprak “Minak Jingga”, biarpun sudah ada jalan tol. Beberapa waktu lalu, Bre datang ke Festival Lima Gunung 2020, agenda tahunan Komunitas Lima Gunung yang dirintis dan dihidupi selama dua dasa warsa terakhir oleh budayawan Magelang Sutanto Mendut. Tanto bersahabat dengan Bre.

Saat pidato singkat, Senin (1/3) malam di padepokannya itu, Riyadi menyelipkan pesan dengan tekanan suara kuat tentang pentingnya warga setempat, yang umumnya petani sayuran tersebut, menjaga kesehatan agar tidak tertular COVID-19.

Pemerintah hingga saat ini terus berupaya mengatasi pandemi dan mencegah makin meluasnya penularan virus corona jenis baru tersebut. Program vaksinasi sedang diselenggarakan secara bertahap untuk menjangkau semua masyarakat.

Meski sudah ada vaksinasi, pemerintah termasuk melalui Satuan Tugas COVID-19, tetap mendorong dan mengingatkan masyarakat disiplin menerapkan protokol kesehatan dalam rangkaian kerja keras mengakhiri serangan pandemi. Riyadi, salah satu yang secara mandiri meneruskan pesan pemerintah tersebut, dalam lingkup tetangga di dusunnya.

Arena pertemuan

Bagaimana pun juga suasana pentas ketoprak “Minak Jingga” menjadi arena pertemuan khusus dalam suasana rileks warga sekampung, sambil menyeruput teh hangat, menyantap makan malam, dan menikmati camilan ala desa.

Mereka saling berbagi obrolan, termasuk di antara mereka dengan polos, tanpa khawatir akan stigma terhadap penyintas COVID-19, keluar pengakuan telah menghadapi tanda-tanda terhinggap virus dan menjalankan solusinya.

“Baru ini tadi saya dengar, mereka ada yang mengaku pernah kehilangan indra penciuman, tidak bisa mengecap rasa makanan,” kata Riyadi yang pernah menjadi Kepala Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, itu.

Namun, mereka menyatakan banyak cara ditempuh sepengetahuannya untuk mengatasi tanda-tanda tertular virus, antara lain banyak minum yang hangat, makan pedas, meminum jamu, makan dalam porsi lebih banyak.

Mereka mendapatkan informasi cara mengatasi hal itu, selain dari kawan-kawan di tempat lain yang dijumpai, juga dari informasi yang banyak dan beragam diperoleh melalui gawainya.

Meski merasakan ada perbedaan tentang kondisi tubuhnya dari hari-hari biasa, mereka tetap beraktivitas mengolah pertanian dan beternak.

Pawit, warga setempat yang pernah menghadapi tanda-tanda serangan virus, mengaku tetap menggarap pertanian sayurannya sebagai mata pencaharian utama sehari-hari yang tak boleh kalah oleh dampak pandemi.

Namun, ia bersama istri dan anak, mengatasi gangguan kesehatan dengan lebih banyak mengonsumsi makanan dan minuman sehat, sedangkan tetap bekerja di lahan sayurannya dianggap sebagai berolahraga untuk mengembalikan kebugaran tubuh.

Gejala serupa juga diakui menerpa seorang lainnya, Febri. Pemuda dusun yang beberapa tahun terakhir menjalani jual-beli aneka burung dengan pasar penggemar hingga luar daerah tersebut, saat ini mengurangi mobilitas. Pengiriman pesanan dagangannya hingga luar daerah dengan memanfaatkan transportasi daring yang menjangkau dusun di kawasan gunung setempat.

“Waktu itu, mungkin karena saya banyak pergi ke sana ke mari. Mulut saya tidak bisa merasakan apa-apa, hidung juga tidak bisa membau. Saya cari informasi di HP (telepon seluler) lalu banyak minum air putih yang panas, juga makan yang banyak dan minum vitamin,” ujar dia.

Ia menyadari usahanya tak boleh runtuh karena pandemi. Ia juga mulai beternak kambing seiring dengan menurunnya mobilitas ke luar desa untuk berjualan burung. Saat ini, alumnus sekolah pertanian tersebut memiliki 24 ekor kambing dengan target penjualan setidaknya saat Idul Adha mendatang, untuk memenuhi kebutuhan daging pada Lebaran Besar tahun ini.

Tidak diceritakan apakah ketika mereka menjumpai tanda-tanda terinfeksi virus itu kemudian melaporkan kesehatannya kepada pihak berwenang supaya masuk pendataan. Terlebih, saat ini pemerintah mendorong pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro, bahkan hingga tingkat desa terkait dengan upaya lanjutan menekan penularan COVID-19.

Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengemukakan kebijakan PPKM mikro harus semakin dioptimalkan agar ujung tombak penanganan pandemi berada di tingkat desa dan kelurahan. Seluruh komponen, baik pusat sampai daerah, tingkat desa, kelurahan, rukun tetangga dan rukun warga, harus bergerak menekan angka kasus virus.

“Disiplin melakukan protokol kesehatan, kekompakan dan pelaksanaan 3T (Tracing, Testing, Treatment) terus dilakukan dengan giat dan bersinergi,” ucapnya.

Di antara sejumlah warga kawasan Merbabu itu yang mengaku menghadapi tanda-tanda tertular virus memang terkesan tidak ingin membuat gaduh atau menghadirkan suasana cemas merayap banyak orang di dusunnya ketika itu. Mereka berusaha dengan segera menyelesaikan persoalan gangguan kesehatan dengan cara yang diketahuinya.

Lain halnya dengan seniman desa dari Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, di kawasan antara Gunung Merapi dan Merbabu, Sujono. Setelah seorang reporter televisi yang beberapa hari sebelumnya ke rumahnya untuk peliputan karya terbarunya, berupa wayang dengan media galvalum, ternyata positif virus, Jono secepatnya menenangkan diri dan kemudian mencari tahu solusinya kepada sejumlah orang berkompeten.

Pimpinan kelompok seniman petani Sanggar Saujana Keron itu, menyatakan kondisi kesehatan badannya tidak ada gangguan mirip tanda-tanda tertular virus. Tetapi, ia menyadari sebagai kontak erat kasus positif, kemudian memutuskan isolasi mandiri di lantai dua rumahnya selama 10 hari, sambil meneruskan karya seni ukir wayangnya.

Sehari menjelang satu tahun pandemi di Indonesia, ia sudah berkegiatan secara normal, keluar rumah, dengan kondisi badan yang dirasakan sehat-sehat saja. Begitu juga keluarganya.

Demikian halnya dengan seniman dan pembuat topeng wayang berbahan kayu dari Bandongan, Kabupaten Magelang, Khoirul Mutaqin. Dalam peristiwa di Keron, ia membantu Jono merampungkan karya wayang galvalum sehingga sempat bertemu dengan sang reporter. Irul pun kemudian isolasi mandiri selama 10 hari di rumahnya.

Baca juga: Gending budaya hidup sehat terus dirajut

Sehari menjelang setahun pandemi, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, ia ke Padepokan Warga Budaya Gejayan menonton ketoprak “Minak Jingga” hingga menjelang tengah malam itu. Tentu saja, bujangan tersebut juga bercerita tentang pengalaman diri kontak erat kasus positif yang lalu menjalani isolasi mandiri dengan tetap tidak membuat gaduh tetangga dan keluarganya.

Gelombang penularan pandemi COVID-19 datang dari masyarakat perkotaan, menjalar melalui tingginya mobilitas manusia sehingga warga pedesaan pun pada akhirnya terjamah virus.

Baca juga: Ritus kepahitan di Candi Pendem Gunung Merapi

Begitu juga dalam wajah arus informasi yang bermacam-macam tentang pandemi, termasuk pencegahan dan penanganannya, melalui produk kemajuan teknologi informasi, tersampaikan juga hingga warga desa.

Setelah setahun pertama, pemahaman pandemi virus dengan persoalannya itupun, makin disadari warga hingga pedesaan. Mereka mulai terlihat berkemampuan menghadapi gangguan kesehatan atas tubuhnya karena mengenal tanda-tanda serangan virus. Bukankah pemahaman secara mumpuni akan suatu hal, kunci penting mengakhiri persoalan?

Baca juga: Komunitas Lima Gunung selenggarakan “Larung Sengkala” di Sungai Progo

Dalam legenda Minak Jingga, Raja Blambangan itu dikalahkan Damarwulan, setelah anak mantan Patih Majapahit, Udara tersebut, berhasil menguasai senjata utama kesaktian lawan tandingnya, “Gada Wesi Kuning”.

Penularan COVID-19 juga diyakini dihentikan melalui vaksin “Gada Wesi Kuning”, hasil riset atas virus itu sendiri.

Oleh M. Hari Atmoko
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © PKomplek 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *