Deteksi dini TBC, adakah tes rapid untuk tuberkolusis?

by -15 views

Jakarta (PKomplek) – Tuberkolusis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis dan memberikan dampak besar terhadap pasien serta keluarganya. 

Ada banyak tantangan mengenai penanggulangan penyakit ini, mulai dari pemahaman yang salah di mana masyarakat mengira tuberkolusis tidak bisa disembuhkan, hambatan ekonomi yang membuat pasien memilih untuk tidak berobat atau malas kontrol, juga stigma dan diskriminasi yang dialami pasien.

Melihat dampak yang besar dari penyakit ini, apakah ada cara deteksi dini TBC seperti tes rapid yang sekarang diterapkan untuk mendeteksi COVID-19 di era pandemi?

“Teorinya bisa, tapi belum direkomendasikan oleh WHO karena tingkat akurasinya belum bagus,” kata Kepala Subdit Tuberkulosis Kementerian Kesehatan Imran Pambudi dalam webinar, Rabu.

Baca juga: Jalan berliku menuju Indonesia Bebas TBC 2030

Indonesia masuk dalam delapan negara di dunia yang menyumbang dua pertiga kasus TBC global. Indonesia ada di posisi kedua setelah India dengan estimasi kasus 845.000 dengan kematian 98.000 per tahun.

Dari estimasi kasus tersebut, sebagian belum diketahui karena tidak ternotifikasi maupun tidak terdeteksi. Pasien yang tidak ternotifikasi adalah mereka yang sudah mengakses layanan kesehatan, namun belum masuk ke dalam sistem catatan pelaporan.

“Sebagian besar di swasta, maka kita harus tegakkan aturan pelaporan,” katanya.

Pada kasus-kasus yang belum terdeteksi, akan ada investigasi bila ada laporan mengenai kasus tuberkolusis. Akan ada kunjungan ke rumah pasien dan anamnesis serta pemeriksaan menyeluruh bila ada gejala-gejala TBC.  

 

Pandemi COVID-19 menjadi tantangan dalam penanggulangan TBC. Menurut studi yang dilakukan oleh Stop TB Partnership bersama dengan Imperial College London, Avenir Health, Johns Hopkins University dan USAID, menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 telah menyebabkan kemunduran capaian program TBC di seluruh dunia ke tingkatan lima hingga delapan tahun ke belakang. 

Secara global, lockdown tiga bulan dan masa pemulihan 10 bulan dapat menyebabkan tambahan 6,3 juta kasus TBC tahun 2020 dan 2025, dan tambahan 1,4 juta kematian akibat TBC dalam kurun waktu sekarang.

Baca juga: Penguatan kerjasama antar Kementerian untuk atasi masalah tuberkolusis

Baca juga: Teknologi digital bantu penanggulangan Tuberkolusis di kenormalan baru

Baca juga: Kemenkes: Pentingnya Terapi Pencegahan Tuberkolusis untuk eliminasi TB

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © PKomplek 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *